Zohri Memilih Pergunakan Uang Bonus Untuk Bangun ‘Rumah di Surga’ dan Santuni Anak Yatim

Zohri Memilih Pergunakan Uang Bonus Untuk Bangun ‘Rumah di Surga’ dan Santuni Anak Yatim

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ تَعَالَى – قَالَ بُكَيْرٌ: حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ: يَبْتَغِيْ بِهِ وَجْهَ اللَّهِ – بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا

“Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah Ta’ala (mengharapkan wajah-Nya) maka Allah akan membangunkan baginya rumah (istana) di Surga”.

Zohri
Muhammad Zohri, sprinter Indonesia yang memenangi final nomor 100 meter putra dalam Kejuaraan Dunia Atletik IAAF U20 di Tampere, Finlandia, Selasa 10 Juli 2018. (IAAF/Inasgoc)

Lombok–Hadis diatas menunjukkan besarnya keutamaan dan ganjaran pahala bagi orang yang membangun masjid. Rumah di surga menjadi ganjaran yang pasti diidamkan setiap insan yang beriman. Bukan hanya itu, membangun rumah Allah (masjid) termasuk juga usaha memakmuran masjid, yang dalam surat At-taubah ayat 18  dijelaskan bahwa siapapun yang memakmurkan masjid maka Allah akan senantiasa mengaruniakan petunjuk kepadanya.

Dengan ganjarannya yang luar biasa tersebut pastilah banyak orang yang berbondong-bondong melakukan hal tersebut. Tak hanya yang berkecukupan, orang yang tergolong mempunyai kehidupan yang sederhana pun bisa membangun ladang amal jariyah itu, dengan seizin Allah.

Lalu Muhammad Zohri, seorang atlet sprint Indonesia, yang namanya sempat mencuat beberapa waktu lalu, menjadi salah satu bukti bahwa kuasa Allah begitu nyata.

Sejak ia memenangkan ajang kejuaraan Atletik U-20, di Tampere, Finlandia pada pertengahan Juli lalu, tak hanya pujian, Zohri juga kebanjiran hadiah dan bonus. Mulai dari uang tunai, perbaikan rumah, investasi emas, hingga tawaran pekerjaan dari berbagai lembaga dan instansi.

Zohri yang bukan berasal dari keluarga kaya raya itu, tak lantas merasa sombong  atas nikmat Allah yang diberikan kepadanya tersebut. Tidak dihabiskan untuk kemewahan dunia, Zohri lebih memilih mempergunakan bonus yang membanjirinya itu untuk membangun masjid dan menyantuni anak yatim.

Pihak PB PASI melalui Sekjennya, Tigor Tanjung, menyatakan bahwa pihaknya juga membantu sebagai fasilitator untuk mengelola bantuan atau bonus yang diterima Zohri tersebut.

“Tidak semuanya ditabung untuk keperluan pribadi. Ada yang ia gunakan untuk membangun masjid, dan membantu anak-anak panti asuhan. Untuk hadiah berupa endorsement maupun hibah, kami tentu juga komunikasi dengan keluarga Zohri yang masih ada,” ungkap Tigor (27/07) dalam Jawa Pos.

Rumah Lalu Muhammad Zohri alias Badok di Dusun Karang Pansor, Desa Pemenang Barat, Kec.Pemenang Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Siapa yang menyangka, seorang Lalu Muhammad Zohri, yang bahkan rumahnya sendiri pun jauh dari kata mewah, akhirnya mampu membangun sebuah rumah di surga. Niat mulia yang tak semua orang memilikinya, bahkan orang berkecukupan sekalipun. Namun Allah membukakan salah satu jalan rezeki-Nya kepada Zohri yang bahkan mungkin ia sendiri pun tak pernah menduganya.

Atas kerja keras Zohri hingga menjadi atlet yang mengharumkan nama bangsa, dan atas niat mulianya membangun rumah Allah serta menyantuni anak yatim, semoga Allah senantiasa memberkahi hidupnya. (history/abadi)

Sumber: Harapan Amal Mulia

Siswa Korban Gempa Lombok Harus Bertahan dengan Sekolah Tendanya

Siswa Korban Gempa Lombok Harus Bertahan dengan Sekolah Tendanya

Keterangan Foto: HARI PERTAMA SEKOLAH: Sulihi, mengajar muridnya di sekolah darurat buatan warga di lapangan pengungsian Desa Duman, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Senin (27/8). Hari pertama sekolah pascagempa masih dilaksanakan di luar gedung. (Sumber Foto: Jawa Pos)

Lombok–Rangkaian gempa yang terjadi di Lombok sejak  Juli lalu tentu menyisakan trauma mendalam pada masyarakat Lombok, terutama anak-anaknya. Peristiwa yang pastinya tak mereka inginkan itu telah mengguncangkan nyamannya masa kecil mereka. Meski begitu, semangat dan cita-cita anak-anak Lombok untuk menuntut ilmu tak pernah redup.

Senin (27/08), menjadi hari pertama anak-anak korban gempa Lombok memulai sekolah di tempat barunya. Tempat yang jauh dari kata layak karena hanya beratapkan tenda yang sebenarnya tak cukup melindunginya dari terik.

Seperti yang terjadi pada anak-anak SDN 02 Rakam, Lombok Timur. Setelah melewati liburan sekolah yang cukup berat, siswa sekolah tersebut harus belajar di tenda-tenda yang  dibuat di halaman sekolah. Rangkaian gempa yang ikut mengguncangkan sekolahnya, mengakibatkan lima dari sembilan ruang kelas hancur, tak bisa lagi digunakan.

“Delapan rombel (rombongan belajar) belajar di tenda,” tutur Kepala Sekolah SDN 02 Rakam, Karmiati, Rabu (29/8/2018) dalam Liputan6.com. Meski begitu, tawa, riang, canda masih menghiasi aktivitas  belajar mereka di tenda.

Belajar dalam tenda tidak hanya dialami murid SDN 02 Rakam. Banyak murid di Lombok yang mengalami nasib serupa karena bangunan sekolah  mereka rusak akibat gempa. Misalnya, di SDN 2 Obel-Obel, Kabupaten Lombok Timur. Di sana terdapat dua tenda yang dimanfaatkan enam kelas siswa. Satu tenda milik kepolisian diisi kelas V dan VI. Sementara itu, siswa kelas I-IV memenuhi tenda hasil sumbangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), seperti yang dilansir Jawa Pos.

Anak-anak tersebut terbilang cukup beruntung karena bisa kembali bersekolah. Kadikbud Kabupaten Lombok Timur mengungkapkan banyak sekolah yang belum bisa kembali memulai aktivitas belajarnya. Selain minimnya jumlah tenda, sejumlah sekolah juga masih ditempati tenda-tenda pengungsian milik masyarakat.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sebanyak 556 unit sekolah rusak akibat gempa Lombok. Dari jumlah tersebut 235 sekolah rusak parah dan tak bisa lagi digunakan.

Tenda mungkin kini menjadi sesuatu yang sangat akrab bagi anak-anak Lombok. Tak hanya sekolahnya, tenda-tenda pengungsian pun kini menjadi satu-satunya tempat yang bisa mereka tinggali. Kira-kira apa yang mereka tuliskan di buku Bahasa Indonesia tentang cerita libur panjangnya? (history/abadi)

Terimakasih ABADI Atas Masjid Daruratnya

Terimakasih ABADI Atas Masjid Daruratnya

“Terimakasih ABADI (Amal Bakti Dunia Islam) atas masjid daruratnya” ujar salah satu anak di tempat pendirian masjid darurat Lombok

Lombok–Mungkin sebagian dari kita berfikir bahwa hal seperti masjid dari tenda adalah hal yang biasa. Karena toh shalat bisa diruang terbuka. Atau mungkin ada yang berfikir bahwa shalat bisa sendiri-sendiri.

Namun bagi warga Lombok yang mencoba pulih dari gempa, masjid darurat beratap tenda, bersangga bambu, beralas tikar menjadi bangunan yang mewah.

Yang mana masjid tersebut bisa menghimpun anak-anak untuk mengaji, untuk bermain dalam keceriaan, dan sama-sama merasa bahwa bangkit secara berjamaah itu penting.

Terimakasih ABADI atas masjid daruratnya

Ayo, bantu Lombok pulih kembali.

Salurkan donasi Saudara untuk Lombok melalui Rek. Donasi
Bank Syariah Mandiri,
No. Rek (451) 711 7976 337
a/n Amal Bakti Dunia Islam

Untuk konfirmasi lebih lanjut, hubungi:
Call/SMS: 0878 6455 6406

www.infoabadi.org

Relawan Abadi Bangun Masjid Darurat untuk Korban Gempa Lombok

Relawan Abadi Bangun Masjid Darurat untuk Korban Gempa Lombok

Infoabadi.org – Sejumlah bangunan hancur rata dengan tanah akibat guncangan kuat gempa 6,4 SR pada Minggu (5/08) dan sepekan setelahnya, Minggu 7,0 SR (12/8) yang berpusat di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di antara bangunan yang rusak hingga roboh tidak lagi berbentuk adalah masjid.

Data sementara dari BNPB menjelaskan, sejumlah kerusakan bangunan akibat gemba bumi Lombok. Sekitar 75 persen pemukiman hancur dan rusak. Selain pemukiman, sebanyak 468 sekolah rusak, 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 20 unit perkantoran rusak, 50 unit mushola rusak dan 15 masjid rusak.

Dusun Batumping Desa Sokong kec. Tanjung Lombok Utara termasuk menjadi desa yang terkena dampak parah akibat gempa. Rumah-rumah desa hancur termasuk masjid an musalah di Desa Sokong. Akibatnya warga tidak dapat melaksanakan ibada sholat dnegan layak.

Relawan Abadi (Amal Bakti Dunia Islam) yang sejak beberapa hari terjadi gempa telah membuat posko di desa tersebut. Setelah pembangunan tenda, dapur umum, dan penanganan korban yang luka-luka dan trauma. Relawan Abadi membangun masjid darurat untuk fasilitas beribadah korban gempa.

Selain menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba kepada sang pencipta, beribadah menjadi salah satu sarana ketenangan dan obat bagi korban gempa yang mengalami trauma. (iskan/infoabadi)

Tim Dirikan Posko dan MCK Darurat untuk Pengungsi

Tim Dirikan Posko dan MCK Darurat untuk Pengungsi

Lombok–Sudah tiga hari ratusan pengungsi di Dusun Kapu, Desa Jenggala, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara mengalami kekurangan makanan. Untuk itu, Tim Yayasan Amal Bhakti Dunia Islam (Abadi) bergerak cepat dengan cara membuat posko di lokasi tersebut.

‘’Kami sudah mulai membuat posko sejak kemarin, Rabu (8/8). Jadi semua bantuan ke wilayah ini bisa dipusatkan di sini,’’ungkap Koordinator Relawan, Sopian Suprianto, Kamis (9/8).

Pihaknya sudah mulai mendistribusikan sembako dan makanan instan kepada para pengungsi. Posko ini tepat berada di samping Pondok Pesantren Al Istiqamah yang 90 persen bangunannya hancur. Seluruh santi dan pengelola ponpes tinggal di tenda pengungsian di halaman Ponpes Al Istiqamah. Sedangkan warga sekitar ponpes dan sebagian orang tua santri, menempati tenda pengungsian di tanah lapang milik Ponpes Al Istiqamah.

Selain kebutuhan logistik yang serba kekurangan, Sopian menambahkan, para pengungsi pun sangat memerlukan akses sanitasi dan air bersih.

‘’Kamar mandi di Ponpes Al Istiqamah hancur semua. Jadi, seluruh pengungsi kesulitan jika akan buang air,’’ungkap Sopian.

Untuk itu, Abadi langsung membuat MCK sementara di samping sungai kecil di dekat lokasi.

Sopian berharap, ada bantuan sanitasi yang lebih layak seperti MCK mobile yang bisa ditempatkan di lokasi pengungsian.

Tak hanya itu, Sopian menambahkan, lokasi pengungsi di Desa Jenggala ini posisinya terpencil. Akibatnya, belum ada bantuan-bantuan lain seperti bantuan medis dan pemeriksaan kesehatan kepada para pengungsi.

Tak hanya mendirikan posko di wilayah Kabupaten Lombok Utara, Tim pun telah mendirikan posko di Desa Obel-Obel, Kecamatan Sambalia, Kabupaten Lombok Timur pasca gempa pertama, Minggu (29/7) lalu.

‘’Sekarang, kami juga membuka posko di Kota Mataram,’’jelas Sopian.

Posko ini, tambah dia, lebih berupa dapur umum yang akan menyediakan makanan berupa nasi bungkus untuk disebar ke beberapa lokasi pengungsian di Lombok Tengah.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Al Istiqamah, Hidayah Tulah mengaku sangat berterimakasih kepada Abadi yang telah membantu mereka pasca gempa terjadi beberapa waktu lalu.

‘’Sampai tim dari Amal Mulia (mitra) dan Abadi datang ke sini, tidak ada satupun bantuan yang diberikan kepada kami. Kalaupun ada relawan dari lembaga lain, hanya lewat saja,’’ungkap Hidayah Tulah.

Hidayah berharap, penanganan korban gempa Lombok ini bisa lebih baik lagi sehingga semua pengungsi bisa memperoleh penanganan sebagaimana mestinya.

“Apa Harus Nunggu Kami Mati Semua, Pemerintah Baru Kirim Bantuan?”

“Apa Harus Nunggu Kami Mati Semua, Pemerintah Baru Kirim Bantuan?”

Lombok–Wajah Supriadi tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Sekertaris Desa Gondang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara ini kesal bercampur bingung. Sudah lebih dari sepekan, warga Dusun Lekok, Desa Gangga, mengungsi akibat gempa dengan magnitude 7,0 skala richter yang terjadi pada Minggu (7/8) lalu.

Tapi, kebutuhan paling mendasar yang mereka butuhkan saat ini, yakni tenda peleton, begitu sulit didapatkan.

‘’Saya sudah datang ke kantor Kecamatan Gangga, dan Kecamatan Tanjung sebagai posko utama di Lombok Utara. Jawabannya bikin kesal. Saya harus bikin dulu surat pengajuan resmi untuk tenda peleton yang ditandatangani oleh sekdes dan kades dan harus di cap. Ini kan darurat. Kantor desa juga hancur. Bagaimana kami harus bikin surat-surat. Capnya juga entah terkubur di reruntuhan mana,’’ keluh Supriadi.

Supriadi menilai, kondisi darurat yang menimpa warga Lombok, khususnya Desa Gondang, akibat gempa bumi jangan dijawab dengan persyaratan birokrasi sebagaimana kondisi normal. Bayangkan saja, kata dia, saat terjadi gempa, warga mengungsi hingga ke kaki bukit yang jaraknya lebih dari 700 meter dari pemukiman.

Letak pemukiman warga, khususnya Dusun Lekok hanya berjarak 200 meter dari pantai. Jika terjadi tsunami, sudah pasti pemukiman warga bakal tersapu. Untungnya ancaman tsunami tak terjadi. Meski demikian, ratusan rumah warga hancur.

Sejak kejadian, kata dia, warga mengungsi di delapan titik pengungsian. Salah satunya terletak di lahan pertanian di kaki bukit.

‘’Lahan ini sebenarnya sudah siap untuk tanam padi. Tapi, kami mau mengungsi kemana lagi?’’ungkap Supriadi.

Kondisi pengungsi di Dusun Lekok begitu memprihatinkan. Mereka mendirikan tenda dari terpal yang biasa digunakan untuk mengeringkan gabah. Ukuran tendanya hanya 4 x 6 meter. Tenda sekecil ini dihuni 5-6 kepala keluarga atau 20-24 orang. Tenda-tenda ini berkumpul di satu titik di sebuah ladang. Untuk menahan angin supaya tidak masuk ke dalam tenda, pengungsi memasan daun-daun kelapa kering.

Untuk shalat, mereka mendirikan mushola darurat yang atapnya terbuat dari pelepah daun kepala kering. Berlantaikan terpal, mushola darurat ini pun digunakan untuk mengaji anak-anak mereka. Total pengungsi yang ada di sini mencapai 275 KK.

Sejak lokasi pengungsian ini didirikan, mereka batu menerima bantuan satu tenda Badan Nasional Penganggulangan Bencana (BNPB). Itupun ukuran kecil.

‘’Kalau untuk bantuan makanan, seperti mie instan, beras, air mineral, suka dikasih sama relawan. Bukan dari pemerintah. Kalau tidak ada bantuan dari para relawan, mungkin kami sudah mati,’’ungkap Supriadi dengan tegas.

Tim Relawan Yayasan Harapan Amal Mulia, yang bekerja sama dengan Amal Bhakti Dunia Islam (Abadi) dan For Humanity mencoba membantu mengurangi beban para pengungsi.

‘’Kami akan mencoba mendirikan MCK darurat. Kasihan, selama ini pengungsi hanya menggunakan air irigasi sawah,’’ungkap Abdul Qodir, Koordinator relawan Amal Mulia.

Ditambahkan Mang Oding, demikian Abdul Qodir biasa disapa, kondisi pengungsi serupa seperti di Dusun Lekok ini banyak ia temui di lapangan. Pemerintah dan beberapa lembaga, kerap hanya menyalurkan bantuan ke lokasi-lokasi pengungsian yang dekat dengan jalan raya. Padahal, masih banyak titik pengungsian yang berada jauh dari jalan lantaran mereka khawatir akan terjadi gempa susulan yang menimbulkan tsunami.

‘’Bantuan masih tidak merata. Kami akan terus menyisir lokasi-lokasi pengungsi yang berada di pedalaman. Kasihan, mungkin mereka belum memperoleh bantuan sama sekali,’’pungkas Mang Oding.

ABADI Salurkan USD 3.400 untuk Bantu Pengungsi Palestina

ABADI Salurkan USD 3.400 untuk Bantu Pengungsi Palestina

Infoabadi.org — Bantuan demi bantuan terus disalurkan untuk saudara kita di Palestina dari Indonesia. Palestina merupakan negara pertama di dunia yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Untuk membalas jasa baik yang telah dilakukan Palestina terhadap Indonesia, bantuan akan terus dikirim melalui berbagai lembaga kemanusiaan di Indonesia. Tidak hanya kota-kota besar di Indonesia, Nusa Tenggara Barat pun turut mengambil peran dalam membantu Palestina.

Baca juga: Ulama Palestina Serahkan Bantuan Korban Gempa Lombok

ABADI atau disebut juga Amal Bhakti Dunia Islam, sebagai salah satu lembaga kemanusiaan di Nusa Tenggara Barat juga ikut turun tangan dalam membantu memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Berbagai program dan bantuan telah disalurkan dan digerakkan oleh tim ABADI sejak awal pendirian lembaga kemanusiaan ini. Kali ini, bantuan yang dihimpun dan digerakkan oleh ABADI yaitu berupa pengumpulan donasi sebesar 3400 USD yang dititipkan untuk Palestina melalui lembaga Kasih Palestina dan diberangkatkan langsung bersama dengan tim Kasih Palestina. Terkumpulnya dana ini diharapkan dapat membantu dan meringkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi saudara di Palestina, mulai dari pakaian hingga makanan dan minuman.

Pada Rabu lalu, (25/7), Abadi bersama lembaga kemanusiaan Palestina yang ada di Indonesia menggelar pertemuan dengan tema Journey of Emphaty. Program yang secara resmi menjadi media dalam mengemban amanah warga Indonesia untuk saudara Palestina.

ABADI menyalurkan bantuan berupa uang tunai sebesar USD 3.400, yang nantinya akan disalurkan dalam bentuk paket sembako untuk Pengungsi Palestina yang ada di Khilis, Turki.

Baca juga: Posko DAMAI (Amal Bhakti Dunia Islam Diresmikan Ulama Palestina)

Journey of Empathy#4 ini mengambil tema ‘Untaian Kasih dari Indonesia untuk Palestina’. Pemberian tema ini didasari atas fakta bahwa masyarakat Indonesia memang mencintai Palestina. Hal ini terbukti dari banyaknya donasi yang dititipkan kepada Kasih Palestina untuk diserahkan kepada para pengungsi Palestina. Selain Kasih Palestina, ABADI akan terus mengembangkan ikatan antar berbagai lembaga kepalestinaan di seluruh Indonesia. Dengan begitu, akan lebih mudah tercapai tujuan bersama untuk membantu Palestina dalam memerdekakan negaranya.

ABADI masih akan terus melanjutkan visi dan misi lembaga dalam mendukung dan menjadi wadah bagi masyarakat Indonesia untuk membantu Palestina.

Buka Puasa di Al-Aqsha Bersama ABADI, Amal Bhakti Dunia Islam

Pada Bulan Ramadhan lalu, Amal Bhakti Dunia Islam atau yang dikenal dengan nama ABADI memberikan buka puasa gratis di Masjid Al-Aqsha. Buka puasa di Masjid AL-Aqsha ini disalurkan melalui Lembaga Kemanusiaan asal Turki, yaitu Burak.

Keadaan perang yang sangat tidak kondusif untuk mendapatkan makanan hingga pakaian, menggerakan hati masyarakat Indonesia untuk terus mengulurkan bantuan melalui ABADI.

Tepat pada bulan Ramadhan 1439 H yang penuh berkah, buka puasa di Masjid Al-Aqsha diberikan untuk para jamaah Masjid Al-Aqsha. Program donasi ini sendiri dinamakan Al-Aqsa’s Iftar in Ramadhan. Standing banner di depan pintu masuk aula ditunjukkan sebagai representasi program ini.

Banyak jamaah yang berkumpul di Masjid Al-Aqsha untuk menunaikan ibadah Ramadan. Tidak hanya pria jamaah Masjid Al-Aqsha, banyak juga wanita beserta anak-anak yang turut menikmati makanan dan minuman yang disajikan ABADI melalui relawan Burak.

Terima kasih pada donatur yang telah mempercayakan ABADi sebagai lembaga penyalur donasi yang sahabat pilih. Semoga menjadi berkah untuk kita semua dan bermanfaat untuk penerimanya.

Bantuan Gubernur NTB

Jumat lalu, (16/2), Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGB Muhammad Zainal Majdi menyerahkan bantuan dari masyarakat NTB berupa uang tunai Rp. 100 juta untuk masyarakat Palestina. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Zainul melalui Sekjen Komite Al-Quds Ikatan Ulama Internasional, Syeikh Dr. Muraweh Mousa Nassar seusai shalat Jumat. Bantuan yang diberikan berupa uang tunai ini menjadikan bukti bentuk dukungan dan kepedulian warga Nusa Tenggara Barat terhadap negara Palestina. Donasi ini diberikan karena sampai detik ini, Palestina masih membutuhkan bantuan dari berbagai Negara untuk mengahadapi serangan Israel dan bertahan hidup di sana.

“Dari segi nilai, bantuan kemanusiaan tersebut mungkin tidak seberapa, tapi sebesar apapun diharapkan bisa membantu dan meringankan beban masyarakat Palestina” kata Majdi, usai menyerahkan bantuan. TGB juga mengungkapkan bahwa ini adalah salah satu cara untuk membalas jasa kebaikan Palestina untuk Indonesia. Seperti yang telah diketahui, Palestina memang merupakan negara pertama di dunia yang mengakui kemerdakaan Indonesia.

Sekjen Komite Al Quds Ikatan Ulama Internasional, Syekh Dr. Muraweh Mousa Nassar pun mengungkapkan rasa terima kasihnya yang sangat dalam atas bantuan masyarakat dan pemerintah Indonesia, khususnya masyarakat dan pemerintah NTB saat itu. Menurutnya, bantuan tersebut adalah amanah besar yang akan selalu diingat masyarakat Palestina. Di tengah masalah Palestina saat ini, khususnya pembebasan Al Quds, Indonesia adalah negara yang selalu memberi dukungan besar dan selalu berada dan berdiri bersama Palestina.

“Meskipun Palestina merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, namun bukan berarti Palestina ingin meminta balasan, tapi masalah Palestina memang merupakan masalah kemanusiaan,” pungkas Syekh Dr. Muraweh. Pernyataan yang diungkapnya merepresentasikan betapa tinggi apresiasi dan rasa terima kasihnya terhadap Indonesia.

Tidak hanya sebatas wilayah Nusat Tenggara Barat, ABADI berharap cakupan penggalangan dana akan terus berjalan dan menyebar hingga ke seluruh penjuru Indonesia. Dengan begitu, tujuan kita dalam membantu dan mendukung Palestina dalam mengahadapi Zionis Israel akan lebih mudah dan efektif.

DKM Baru Berani Bersihkan Reruntuhan Masjid Setelah Dikunjungi Syekh Palestina

DKM Baru Berani Bersihkan Reruntuhan Masjid Setelah Dikunjungi Syekh Palestina

Lombok–Gempa dengan kekuatan 6,4 skala richter yang melanda Lombok pada Minggu (29/8) lalu telah meluluhlantakkan ribuan rumah. Ditambah lagi, terdapat gempa susulan di minggu berikutnya, yakni pada Minggu (05/08). Puluhan masjid pun rusak parah di Bumi Seribu Masjid tersebut.

Sekretaris Ikatan Ulama Al Quds, Syekh DR Muroweh Mousa Nassar yang beberapa waktu lalu mengunjungi Lombok merasa sedih melihat banyaknya rumah yang hancur. Tak hanya itu, ia pun mendatangi beberapa lokasi pengungsian dan mendoakan mereka supaya lebih sabar dan mengembalikan takdir kepada Allah.

Dalam kunjungannya, Syekh Muroweh pun meninjau lokasi Masjid Nurul Yakin yang berada di Dusun Mentareng, Desa Obel-Obel, Kecamatan Sambalia, Kabupaten Lombok Timur.

Dalam pantauan di lapangan, kondisi Masjid Nurul Yakin mengalami kerusakan yang sangat parah. Seluruh kaca masjid pecah. Pecahan kaca bertaburan di sekeliling lantai masjid. Sebagian temboknya juga runtuh, termasuk tembok di dekat mimbar.

‘’Semoga masjid ini bisa segera diperbaiki dan menjadi tempat masyarakat untuk beribadah dan berdo’a kepada Allah,’’ungkap Syekh Muroweh, belum lama ini.

Salah seorang pengurus DKM Nurul Yakin, Usman mengatakan bahwa kondisi masjid saat ini belum bisa digunakan untuk beribadah lantaran mengalami kerusakan yang sangat parah.

‘’Saya saja baru berani masuk ke masjid ini setelah Syekh dari Palestina masuk. Sebelumnya saya takut kalau masuk, masjid akan runtuh,’’ungkap Usman.

Usman dan jamaah mengaku berterimakasih atas kehadiran Syekh Muroweh ke Masjid Nurul Yakin ini. Selain dido’akan, Usman juga mengaku jadi lebih bersemangat untuk segera membersihkab masjid ini dari puing-puing bangunan dan pecahan kaca.

Untuk keperluan ibadah shalat berjamaah, Usman menambahkan, pihaknya telah meminta supaya didirikan tenda peleton di halaman masjid.

Mari Dirikan Kembali Kota Seribu Masjid

Mari Dirikan Kembali Kota Seribu Masjid

Lombok–Ribuan rumah luluh lantak rata dengan tanah. Ratusan masjid pun rusak parah. Gempa dengan kekuatan 6,4 skala richter telah mengguncak Lombok pada Minggu, 29 Juli 2018 lalu. Pada pukul 06.40 Wita, saat sebagian penduduk masih duduk bersantai di dalam rumah, guncangan hebat membuat mereka tersentak.

Semua orang yang merasakan gempa itu mencoba menyelamatkan diri. Tapi, ada 17 orang yang tewas tertimbun reruntuhan.

Saat ini, seluruh korban gempa tak ada yang bisa kembali ke rumah mereka karena sudah hancur. Mereka tinggal di berbagai lokasi pengungsian. Kalaupun rumah mereka sebagian masih utuh, tak berani mereke menempatinya. Gempa susulan masih saja terasa hingga kini. Mereka pun memilih tidur beralaskan tikar di halaman rumah.

Amal Bakti Dunia Islam (Abadi) bersama mitra telah membuka Posko Bantuan di Desa Obel-Obel, Kecamatan Sambalia, Kabupaten Lombok Timur. Berbagai bantuan yang diberikan para donatur berupa makanan, dan pakaian layak pakai telah kami salurkan.

Tapi, kebutuhan ribuan pengungsi masih tak terpenuhi. Salah satunya sarana ibadah yang turut hancur oleh guncangan gempa. Mari kita bangun kembali masjid-masjid yang hancur. Kita bantu untuk memulihkan spiritual para pengungsi supaya mereka bisa lebih khusyuk berdoa meminta masa depan yang lebih baik.

Mari kita tebarkan amal, muliakan kembali mereka yang tengah berduka. Mari Dirikan Kembali Kota Seribu Masjid di Nusa Tenggara Barat.

Abadi Kerahkan Relawan untuk Bantu Korban Gempa Lombok

Abadi Kerahkan Relawan untuk Bantu Korban Gempa Lombok

infoabadi.org – Bantuan demi bantuan terus dikerahkan oleh relawan se-Indonesia untuk korban gempa bumi Lombok. Seperti yang telah diketahui, pada Minggu lalu (29/7), Nusa Tenggara Barat mengalami bencana gempa bumi yang memporak-porandakan banyak bangunan. Korban pun perjatuhan. Sebagian besar masyarakat yang selamat kini masih berada di tenda pengungsian.

Baca juga: Posko Nasional Amal Bhakti Dunia Islam untuk Lombok Diresmikan Ulama Palestina

Abadi masih menjalankan aksi kemanusiaannya untuk mengabdi pada kemanusiaan. Rabu (1/8), telah berangkat tim relawan dari Abadi. Relawan gelombang pertama ini berjumlah lima orang yang terdiri dari mahasiswa dan pihak media, menuju lokasi bencana, yaitu Kecamatan Sambelia Kabel Lombok Timur. Kemudian berlanjut dengan relawan gelombang kedua Kamis (2/8). Tim Abadi memberangkatkan sebelas relawan menuju tenda pengungsian. Untuk membantu warga Lombok yang tertimpa bencana gempa, DAMAI, yang merupakan salah satu program Abadi (Amal Bakti Dunia Islam), membuka Posko Nasional Peduli Gempa Lombok di Desa Obel-obel Kec. Sambelia, Kab. Lombok Timur.

Korban Bencana Lombok

Pemberangkatan relawan gelombang ke-dua ini direncanakan akan bertugas selama tujuh hari di lokasi bencana. Selama tujuh hari bertugas, kegiatan yang telah disusun antara lain:

  • Pendataan rumah, sekolah, masjid, dan mushala yang rusak.
  • Healing atau memberikan pengobatan untuk masyarakat yang terluka akibat bencana.
  • Evakuasi barang milik warga masyarakat pasca gempa.

Untuk keadaan di lokasi bencana itu sendiri, korban masih diselimuti keadaan duka dan masih menantikan uluran tangan kita. Sementara ini Abadi masih berusaha mengajak masyarakat Indonesia khususnya warga Nusa Tenggara Barat untuk bersama membantu dan menjadi relawan musibah di Lombok ini. Bukan merupakan keharusan dalam menjadi relawan yang terjun langsung ke lokasi bencana, namun bantuan berupa donasi pakaian, makanan, dll. pun sangat diharapkan.