Israel Langgar Gencatan Senjata, Warga Palestina Berguguran

Israel Langgar Gencatan Senjata, Warga Palestina Berguguran

ABADI, Palestina – Sejak Kamis (15/11) sebagian besar masyarakat Gaza telah menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Gencatan senjata memang telah diberlakukan sejak Rabu (13/11) pasca rentetan serangan dilontarkan Israel ke wilayah Gaza selama tanggal 11 sampai 12 November lalu.  Puluhan warga Gaza gugur, berbagai bangunan hancur, sejumlah  orang terluka sehingga harus mendapat perawatan.

Sebagian besar warga Palestina merayakan gencatan senjata tersebut, sementara itu para pemukim ilegal melakukan demonstrasi di jalan-jalan mengecam keputusan tersebut.

Meski demikian, sebagian warga Palestina yang lain tetap dihantui ketakutan. Dengan tabi’atnya, Zionis Israel bisa saja berkhianat dan tetap melancarkan serangannya.

Serangan UDara Israel
Aksi Kepulangan Akbar pekan ke-34 lukai puluhan warga Palestina (Foto: Mohammad Zaanoun/instagram)

Nayatanya benar saja, belum genap satu hari pasca diberlakukan, Israel melanggar gencatan senjata dengan menembak seorang nelayan berusia 23 tahun, Nawaf Alattar di perairan Baitlahiya, Gaza Utara(14/11).

Dalam Aksi Kepulangan Akbar pecan ke-34, Jumat (16/11), puluhan orang terluka oleh serangan yang dilakukan Israel dalam aksi yang di mana ribuan Palestina berkumpul di kamp Malaka untuk menuntut kembalinya tanah mereka yang dirampas.

Baca juga: Abadi Salurkan Bantuan untuk Korban Aksi Kepulangan Akbar di Turki

Tak berhenti samapi di situ, peluru Israel juga lukai empat orang warga Palestina di Ramallah pada Senin (19/11). Satu di antaranya terluka parah akibat peluru yang menembus saluran vena di bagian paha.

Serangan UDara Israel
Serangan udara Israel di Gaza pada Senin (12/11). (Foto: Muhammad Zaanoun/ Intsagram)

Kabar duka lain datang dari seorang remaja Palestina yang meninggal dunia meninggal dunia pada Selasa sore (20/11/2018) akibat luka yang dideritanya pekan lalu oleh peluru pasukan polisi pendudukan penjajah Israel di al-Quds yang diduduki.

Inikah yang dinamakan gencatan senjata? Tak bisakah masyarakat Gaza merasakan sedikit ketenangan meski hanya sebentar saja?  (history/abadi)

Sumber: Melayu Palinfo

Mari bantu saudara-saudara kita di Palestina dengan doa dan donasi terbaik melalui rekening di bawah ini:

Bank Syariah Mandiri
No. Rek (451) 711 7976 337
a/n Amal Bakti Dunia Islam

Untuk konfirmasi lebih lanjut, hubungi:
Call/SMS: 0878 6455 6406

Apa Kabar Saudara-saudara Kita di Lombok?

Apa Kabar Saudara-saudara Kita di Lombok?

ABADI, Lombok – Bencana yang acap kali terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, seolah menenggelamkan isu Lombok yang ternyata masih belum pulih pasca gempa yang mengguncangnya awal Agustus 2018 lalu.

Sudah lebih dari tiga bulan korban gempa Lombok harus tinggal di tenda pengungsian. Sementara hujan mulai datang, Hunian Sementara (Huntara) yang dijanjikan pun belum juga terealisasi. Tenda-tenda sederhana pun menjadi pelindung utama para korban gempa.

Produksi rumah instan sederhana sehat ( risha) bagi korban juga masih jauh dari target. Berbagai kendala teknis dan administrasi menjadi salah satu kendala terhambatnya pembangunan, sebagaimana dilansir dari Kompas.

Bencana Alam Lombok - Infoabadi
Sehari setelah gempa warga korban gempa Lombok masih berjaga-jaga di malam hari, khawatir gempa susulan besar terjadi (Sumber: Liputan6.com)

Gempa yang mengguncang Lombok beberapa waktu lalu mengakibatkan 75.000 unit rumah warga rusak. Dari jumlah tersebut, hanya 40 persen atau sekitar 30.000 unit yang diizinkan pemiliknya untuk dibangun kembali dengan menggunakan teknologi Risha.

Sejumlah Warga Masih Dihantui Trauma

100 hari berlalu luka fisik mungkin sudah kembali pulih, namun trauma masih terus menghantui. Seperti penuturan salah satu warga Lombok, Budi Wicaksono. Guru di SMA N 1 Bayan, Lombok Utara ini mengatakan gempa yang terjadi tiga bulan lalu membawa trauma panjang baginya. Apalagi, tiga siswanya menjadi korban tewas dan seorang siswa lainnya diamputasi salah satu kakinya.

“Sewaktu gempa dia sedang di pantai. Kakinya terjepit antara beton jembatan dan jalan, harus diamputasi. Dia sudah sekolah sekarang, dan penuh semangat,” kata Budi.

Bencana gempa Lombok - infoabadi
Tenda pengungsian keluarga Budi Wicaksono di Bayan, Lombok Utara. foto Budi Wicaksono. (Sumber: Voa Indonesia)

Lombok masih berduka, trauma dan tangis masih terdengar di mana-mana. Ribuan rumah hancur dan memaksa warga tinggal beratapkan tenda, yang tak cukup melindungi dari terikknya siang atau menusukknya suhu malam.
Masyarakat Lombok belum mampu melepas pulih dengan kakinya sendiri. Tak ada pekerjaan, atau pun penghasilan. Kepedulian dan dukungan dari saudara-saudara masih sangat dibutuhkan masyarakat Lombok (history/abadi)

Sumber: Kompas, Voa Indonesia

Abadi Salurkan Bantuan untuk Korban Aksi Kepulangan Akbar di Turki

Abadi Salurkan Bantuan untuk Korban Aksi Kepulangan Akbar di Turki

Keterangan Foto: Direktur ABADI, Lauhul Hamdi mengunjungi korban Aksi Kepulangan Akbar yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit di Turki (12/11).

 

ABADI TURKI–Aksi Kepulangan Akbar yang diselenggarakan sejak 30 Maret 2018 lalu masih terus berlanjut. Di pekan ke 33 kemarin, tercatat 198 warga Palestina gugur dan lebih dari 22 ribu orang terluka akibat berbagai serangan yang diluncurkan Israel, termasuk para korban yang ditemui langsung oleh ABADI dan tim di salah satu rumah sakit di Istanbul, Turki.

Di rumah sakit tersebut, kami mengunjungi tujuh korban Aksi Kepulangan Akbar yang dirujuk karena keterbatasan alat kesehatan di Gaza. Mereka mengalami luka yang cukup serius, terutama di bagian kaki. Ada sebagian luka yang tak dapat diatasi sehingga terpaksa harus diamputasi.

Penyaluran medis Palestina
Abadi menyalurkan bantuan dana untuk para korban luka Aksi Kepulangan Akbar (12/11)

Sebelah Kaki yang Telah Sampai di Surga

Alhamdulillahirobil’alamiin, dengan bantuan dari donatur, ABADI mampu menyalurkan bantuan dana untuk para korban. Selama di Istanbul, seluruh korban dibiayai oleh salah satu lembaga mitra kerja ABADI yaitu INSAN.  Lembaga ini pula yang membawa mereka dari Gaza ke Turki untuk mendapatkan perawatan yang lebih maksimal.

Penyaluran medis Palestina
ABADI mengunjungi mengunjungi sejumlah korban yang beberapa waktu lalu dirawat di rumah sakit di Turki dan kini berada di tempat penampungan sementara (12/11)

Ketegaran terpancar jelas dari wajah para korban. Tak ada muram, sedih, atau kecewa. Mereka yakin inilah takdir terbaik yang telah digariskan Sang Maha Pencipta.

Bahkan salah satu korban yang telah Allah takdirkan diamputasi salah satu kaki nya  mengatakan , “Insyaallah salah satu kaki kami telah sampai di Surga”.  Maasya Allah.

Baca juga: ABADI Distribusikan Bantuan Kemanusiaan di Perkampungan Mualaf

Selain tujuh korban yang masih mendapatkan perawatan, ABADI dan tim juga mengunjungi sejumlah korban yang beberapa waktu lalu juga dirawat di rumah sakit yang sama dan kini berada di tempat penampungan sementara.

Penyaluran medis Palestina
Direktur ABADI (pojok kanan) bersama INSAN, salah satu mitra di Turki (12/11).

Direktur ABADI, Lauhul Hamdi, juga sempat berbincang dengan orang tua salah satu korban. Mereka mengungkapkan kebanggaan tiada tara atas kondisi sekaligus prestasi yang ditorehkan anak mereka membela tanah para Anbiya.

Mohon doa dan dukungan agar ABADI senantiasa membersamai umat Islam di Indonesia, Palestina, dan seluruh penjuru dunia. (history/abadi)

Salurkan donasi terbaik melalui rekening di bawah ini:

Bank Syariah Mandiri
No. Rek (451) 711 7976 337
a/n Amal Bakti Dunia Islam

Untuk konfirmasi lebih lanjut, hubungi:
Call/SMS: 0878 6455 6406

 

Kabar Duka dari Tasikmalaya

Kabar Duka dari Tasikmalaya

Keterangan Foto: Banjir Tasikmalaya  (Sumber: Tribun)

ABADI TASIKMALAYA–Hujan deras tak henti mengguyur Kabupaten Tasikmalaya sejak Senin (05/11) sore. Sungai Pasanggrahan yang biasa berarus tenang pun hari itu meluap hingga mengakibatkan tiga kecamatan terendam,yakni Kecamatan Cipatujah, Karangnunggal, dan Culamega.

Sejumlah warga juga dilaporkan ikut terseret derasnya arus banjir. Hingga Selasa(06/11) empat warga berhasil ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, sedangkan dua lainnya masih dalam pencarian.

Dua korban meninggal diketahui bernama Elsa (10) dan Mardin (60), warga Kecamatan Culamega. Namun dua jasad lainnya, perempuan berusiaa 35-an tahun dan laki-laki berusia 30-an tahun, belum diketahui identitasnya.

Banjir Tasikmalaya
Banjir bandang akibatkan longsor dan terputusnya jembatan

Tak hanya mengakibatkan adanya korban jiwa, banjir bandang juga menggerus jembatan di Kecamatan Cipatujah. Akibatnya, akses menuju Kabupaten Garut lewat Cipatujah terputus.

BPBD Kabupaten Tasikmalaya mendata, dampak terparah banjir berada di Kecamatan Culamega. Air banjir merendam rumah warga hingga setinggi 2 meter atau seatap rumah.

Banyak warga yang mengungsi ke rumah sanak-saudaranya karena rumah mereka yang terkena dampak banjir bandang.

Banjir Tasikmalaya
Evakuasi korban banjir bandang Tasik oleh Basarnas (Foto: Basarnas)

Saat ini, BPBD dan tim SAR tengah mendata kebutuhan para pengungsi. Koordinasi tersebut dipusatkan di posko gabungan yang berada di Kecamatan Cipatujah.

Rentetan bencana yang akhir-akhir ini melanda bumi pertiwi seolah menjadi pecut agar kita senantiasa bermunajat,memohon perlindungan kepada Sang Maha Pelindung.(history/abadi)

Salurkan dan donasi terbaik untuk membantu meringankan saudara-saudra seiman kita yang tertimpa bencana,melalui rekening dibawah ini:

Bank Syariah Mandiri
No. Rek (451) 711 7976 337
a/n Amal Bakti Dunia Islam

Untuk konfirmasi lebih lanjut, hubungi:
Call/SMS: 0878 6455 6406

Abadi Distribusikan Bantuan Kemanusiaan di Perkampungan Mualaf Sigi

Abadi Distribusikan Bantuan Kemanusiaan di Perkampungan Mualaf Sigi

Keterangan Foto: Pendistribusian bantuan kemanusiaan untuk korban gempa di Perkampungan Mualaf, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah.(Dok. Abadi)

ABADI SIGI — Mushaf Emerald, salah satu relawan Abadi terlihat sibuk mengendalikan jalannya pendistribusian bantuan di salah satu perkampungan mualaf di Kec. Kulawi Selatan.

Masyarakat sekitar begitu antusias menyambut kedatangan tim Abadi yang membawa berbagai bantuan dari donatur. Pasalnya, sejak gempa mengguncang Kab. Sigi akhir September 2018 lalu,  kehidupan mereka belum pulih seutuhnya. Makanan menjadi kebutuhan yang sampai saat ini masih terbatas ketersediaannya.

Kamis, 01 November 2018 perjalanan cukup berliku dilalui tim Abadi untuk dapat sampai di titik penyaluran di Kec. Kulawi Selatan, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah.

 

Penyaluran Bantuan Sigi
Mushaf Emerald, salah satu tim Abadi  di tengah kesibukannya mengatur pendistribusian bantuan (Dok. Abadi)

Rasa lelah akhirnya terobati ketika sampai di titik lokasi. Anak-anak tertawa riang menghampiri tim kami yang turun dari mobil dengan membawa berbagai ‘buah tangan’.

Beragam jenis bahan makanan seperti beras, telur, susu, sayuran dan lainnya distribusikan kepada masyarakat perkampungan tersebut.Selain itu Abadi juga menyokong kebutuhan sarana beribadah seperti mukena, sajadah, pengeras suara masjid dan genset.

Baca juga: Abadi Kembalikan Tawa Anak-anak Korban Gempa Palu

Mayoritas Penduduk Mualaf

Nuansa Islam begitu terasa kental di perkampungan ini. Siapa yang menyangka ternyata sebagian besar penduduk merupakan mualaf (baru memeluk Islam). Kurang lebih 50 mualaf beserta anak-anaknya tinggal di perkampungan yang masih masih terlihat asri meski banyak terlihat bangunan yang rusak di berbagai sudut.

Penyaluran Bantuan Sigi
Warga perkampungan mualaf di Kec. Kulawi Selatan, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah (Dok. Abadi)

Sebagaimana kehidupan muslim pada umumnya, budaya tolong-menolong di sana juga semakin menambah indahnya hidup dalam dekapan ukhuwah. Tim kami juga disambut baik dengan keramahan daerah yang khas.

Anak-anak yang  sejak kami datang selalu membuntuti pun seolah enggan melepas kami meninggalkan kampung mereka.

Allah akan memberi hidayah kepad siapa pun yang ia kehendaki. Namun, memuliakan orang-orang yang dilimpahkan hidayah ini Insya Allah menjadi salah satu wasilah Allah memberi kita hidayah yang tak terhingga pula. (history/abadi)

Mari bantu ringankan beban saudara-saudara kita yang tengah tertimpa musibah gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah dengan doa dan donasi terbaik.

Salurkan donasi terbaik melalui rekening di bawah ini:

Bank Syariah Mandiri
No. Rek (451) 711 7976 337
a/n Amal Bakti Dunia Islam

Untuk konfirmasi lebih lanjut, hubungi:
Call/SMS: 0878 6455 6406

Tatkala Nelayan Karawang Menunjukan Kepeduliannya Terhadap Para Korban  Jatuhnya Pesawat

Tatkala Nelayan Karawang Menunjukan Kepeduliannya Terhadap Para Korban  Jatuhnya Pesawat

Situasi di pantai sekitar lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 (Sumber: Viva)

ABADI — Kepedulian dapat ditunjukan dengan berbagai aksi. Seperti yang dilakukan para nelayan  kawasan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat. Setelah terdengar kabar bahkan sebagian menjadi saksi jatuhnya pesawat Lion Air JT610, mereka mengabdikan diri dengan membantu proses pencarian korban dan puing-puing pesawat.

Di bawah terik dan bermodalkan perahu kayu, para nelayan menyisir setiap sudut perairan berharap menemukan titik terang.

Pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta- Pangkal Pinang terjatuh pada Senin (29/10) pagi di perairan Karawang. Sekitar 189 orang menjadi penumpang pesawat nahas tersebut termasuk di antarannya bayi dan anak-anak.

Memahami Wilayah Perairan Sekitar Jatuhnya Pesawat

Basarnas memang sengaja melibatkan nelayan dalam usaha pencarian korban dan puing pesawat karena merekalah yang memahami kondisi wilayah perairan di sana.

Meski begitu, basarnas tetap memprioritaskan keselamatan nelayan dengan tak mengizinkan mereka menyelam, dan hanya mencari dari atas perahu dengan berbagai peralatan yang ada.

Korban Lion Air JT-610
Basarnas bersama Nelayan bahu-membahu mencari Korban Lion Air JT-610 (Sumber: detik.com)

13 Kantong Jenazah

 

Korban Lion Air JT-610
Petugas memilah serpihan pesawat dan barang milik korban penumpang pesawat Lion Air JT-610 (Sumber: Kompas)

Dilansir dari Detik, hingga Selasa (30/10) sore telah terkumpul 37 kantong jenazah yang selanjutnya dibawa ke RS Polri.

“Kemarin sudah kita sampaikan ada 24 kantong jenazah yang sudah kita kirim ke RS Polri, hari ini dapat tambahan 13 lagi sehingga ada 37 kantong jenazah yang sudah kita kirim ke DVI RS Polri,” kata Kepala Deputi Bidang Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Nugroho Budi Wiryanto, pada Selasa (30/10/)

Tak hanya itu, tim pencarian juga berhasil menemukan serpihan-serpihan pesawat serta barang yang diduga milik korban, termasuk di antaranya kartu identitas. (history/abadi)

Sumber: Liputan6, Tempo

Abadi Kembalikan Tawa Anak-anak Korban Gempa Palu

Abadi Kembalikan Tawa Anak-anak Korban Gempa Palu

Keterangan Foto: Trauma healing oleh tim ABADI yang dilaksanakan pada Ahad, 21 Oktober 2018 di Desa Tenggoro Kec. Palu Utara

Palu–Gempa yang mengguncang Palu 28 September lalu menyisakan berbagai dampak yang memprihatinkan. Bukan hanya hilangnya ribuan nyawa atau parahnya luka, lebih dari itu ada rasa trauma yang bisa jadi tak akan hilang dalam waktu sekejap pada diri mereka yang terlihat baik-baik saja.

Anak-anak menjadi kelompok rentan yang paling membutuhkan penanganan trauma akibat peristiwa pilu yang mereka alami.

Bersamaan dengan disalurkannya bantuan logistik dari Amal Bakti Dunia Islam (ABADI) untuk pengungsi Palu, dukungan psikologis juga tak lupa kami distribusikan kepada anak-anak korban gempa.

trauma healing Palu
trauma healing Palu (21/10)

Masing-masing mereka mempunyai cerita sedih yang tak mungkin tak membuat nurani orang dewasa tersentuh.

Tetapi, wajah-wajah lugu mereka terus melengkungkan senyumnya sejak tim ABADI mulai ‘mengobati’ mereka dengan berbagai permainan dan aktivitas menyenangkan.

 

trauma healing Palu
Anak-anak korban gempa Palu di  Desa Tenggoro Kec. Palu Utara saat mengikuti trauma healing

Sejak pagi, anak-anak pengungsi di Desa Tenggoro Kec. Palu Utara telah berkumpul di tanah lapang yang tak jauh dari tenda pengungsian. Jangan bayangkan bahwa pagi di sana sejuk dan diselimuti sinar matahari yang hangat, karena pagi di Palu sudah cukup membuat sekujur tubuh berkeringat .

Trauma Healing Palu
Trauma Healing Palu (21/10)

Meski begitu, anak-anak pengungsian seolah tak pernah mengenal kata lelah. Tak peduli seberapa sulit hidup mereka saat ini, fitrah mereka tetaplah seorang anak yang akan bahagia ketika dapat berkumpul dan bermain bersama. Tawa riang anak-anak pengungsi mewarnai sepanjang jalannya trauma healing yang dilakukan tim ABADI.

Mereka juga tak ragu untuk berlari, meloncat, ataupun mengepakkan tangannya ketika diminta menirukan gerakkan binatang.

Semoga mereka tumbuh menjadi manusia-manusia tangguh, cerdas, serta mempunyai keimanan yang kokoh. (history/abadi)

Diberi Kesempatan Hidup Ke-dua, Agam Kini Menjadi Santri Penghafal Alquran

Diberi Kesempatan Hidup Ke-dua, Agam Kini Menjadi Santri Penghafal Alquran

Keterangan Foto: Agam Samsinar (19), santri Istana Sufara Quran (ISQ), Kab. Asahan, Sumatera Utara

 

Sumatera Utara–Agam Samsinar, begitulah orang tuanya memilihkan nama sebagai doa. Tak ada yang lebih mujarab dari doa tersebut karena Agam tumbuh sebagai hamba Allah yang kuat  meski diuji dengan berbagai penyakit mematikan.

Sesak, Perut Membesar, Hingga Koma Berhari-hari

Sejak lahir, ia telah menderita gangguan paru-paru. Dadanya bisa seketika sesak, persis seperti saat kami melakukan sesi wawancara dengan salah satu santri tahfizh Istana Sufara Alquran (ISQ) ini. Wawancara pun harus dihentikan sementara, menunggu kondisi Agam membaik (05/09).

Selain itu, di usianya yang baru menginjak 19 Agam didiagnosa menderita kista, bukan penyakit yang sepele. Perutnya pernah sempat membesar persis seperti wanita yang sedang mengandung. Hingga cacian dan makian menjadi sesuatu yang akrab di telinga Agam. Ia bahkan sempat mengalami koma berhari-hari  karena berbagai penyakit yang dideritanya.

Pertolongan Allah Begitu Dekat

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal”. (Ali Imran: 160)

Namun, pertolongan Allah begitu dekat dengan gadis asal Kabupaten Asahan ini. Agam mampu tersadar dari koma dan kembali melanjutkan hidupnya.

Peristiwa tersebut selalu membekas dalam hatinya, begitulah Allah mengaruniakan jalan hidayah  kepada Agam. Mukjizat-Nya dengan memberikan kembali  kesempatan hidup, seolah memecut Agam untuk menjadi  muslimah yang lebih baik.

Menghafal al Quran menjadi salah satu jalan yang Agam pilih untuk ‘bersyukur’ kepada Allah. Begitu sampai kabar dibukanya pondok tahfizh di Kab. Asahan ini, tak banyak berpikir ia segera memutuskan untuk bergabung.

Halangan dan Rintangan Pada Awal Proses Menghafal

Agam yang mengaku bahwa dulunya sempat jauh dari agama, sempat merasa minder dengan santri lain yang dianggapnya lebih ‘faqih’ terutama dalam bidang menghafal Alquran.

“Pernah saya mengulang hafalan, tapi tak sedikitpun saya tidak ingat hafalan itu, sama sekali tidak ingat. Bahkan sudah dipancing dengan ayat-ayat awal, tapi tetap tidak ingat” ujarnya.

“….Tapi saya yakin bahwa saya bisa. Karena saya tahu, Allah akan bantu saya” Agam menambahkan

Agam Berhasil Keluar dari Keputusasaan

Pengarahan  dan suntikan semangat dari pembimbing serta rekan santri, mampu membuatnya bertahan, melanjutkan jihadnya menghafal.

Sambil terisak, Agam juga berpesan untuk saudara-saudara seimannya, “Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, atas seizin Allah. Mungkin manusia bisa beranggapan kita lemah, kita nggak bisa, tapi kuasa Allah kita nggak ada yang tahu..”

Sumber artikel: Harapan Amal Mulia

20 Tahun Pemiliknya Bagikan Air Gratis untuk Warga, Rumah Ini Kokoh Berdiri Meski Diterjang Tsunami

20 Tahun Pemiliknya Bagikan Air Gratis untuk Warga, Rumah Ini Kokoh Berdiri Meski Diterjang Tsunami

Keterangan Foto: Rumah (cat kuning) tetap kokoh meski diguncang gempa dan tsunami pada 28 September 2018 (Dok. Amal Mulia)

فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ

“Maka kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia.” (QS. Al-Ankabut: 15)

Palu–Ayat tersebut berkenaan dengan diselamatkannya Nabi Nuh dan orang-orang beriman dari banjir bandang yang menenggelamkan kaum yang menolak kebenaran.

Banyak kita menemukan kisah sedih lahir dari peristiwa getir gempa dan tsunami Palu. Kehilangan, kerusakan, yang bahkan berdampak pada kelaparan. Namun, tak sedikit pula kisah menakjubkan datang dengan membawa hikmah dan pelajaran berharga.

Salah satunya datang dari Pantai Talise, Kelurahan Panau, Kec Tawaeli, Kota Palu. Sebuah rumah tetap berdiri kokoh meski  tsunami datang menghempasnya. Padahal, rumah-rumah  di sekelilingnya hancur, hingga rata dengan tanah.

Rumah bagi-bagi Air
Pasca gempa dan tsunami, sumber air di rumah yang tetap kokoh tersebut terus mengalir memberi manfaat untuk warga sekitar (Dok. Amal Mulia)

Menurut penuturan Tim Amal Mulia yang menelusuri tempat kejadian, pemilik rumah sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman karena khawatir akan adanya gempa susulan.

Tim Amal Mulia yang menelusuri tempat kejadian begitu terheran menyaksikan kejadian menakjubkan tersebut dan mencari siapa sebenarnya pemilik rumah bercat kuning ini.

Menurut keterangan salah seorang warga, pemilik rumah merupakan seorang dermawan yang telah lebih dari dua puluh tahun membagi-bagikan air bersih secara gratis kepada warga sekitar.

Meski pemilik berada di pengungsian, sumber air dari rumah tersebut masih  mengalirkan manfaat untuk umat, terlebih kondisi sedang begitu sulit di sana. Keberkahan amal soleh yang diberikan sang dermawan, Insya Allah akan menjadi jariyah yang terus mengalir di akhirat kelak.

Palu
Kondisi Pantai Talise pasca gempa dan tsunami menerjang kota Palu (Foto: Kumparan)

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah, kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS Al-Baqarah [2]: 281)

Data dari BNPB menyebutkan sebanyak 66.926 rumah rusak akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah yang terjadi pada 28 September lalu. Jumlah pengungsi pun mencapai 62.359 orang, dan tersebar di wilayah Palu, Sigi, dan Donggala.

Sumber: Harapan Amal Mulia

Air Tercemar Limbah Menjadi Penyebab Utama Kematian di Gaza

Air Tercemar Limbah Menjadi Penyebab Utama Kematian di Gaza

Keterangan Foto: Wanita Palestina mengisi jerigen-jerigen air di Gaza (Foto: Middle East Monitor)

Palestina–Lebih dari  seperempat penyakit yang diderita penduduk Gaza, disebabkan oleh air tercemar yang selama ini mereka konsumsi. Sebuah penelitian mengatakan, konsumsi air limbah tersebut menjadi penyebab utama kematian di Jalur Gaza yang telah diblokade Israel sejak 11 tahun lalu itu.

Dilansir dari Middle East Monitor, hasil penelitian tersebut dibagikan oleh surat kabar Haaretz yang mengutip dari RAND Corporation, sebuah lembaga kemanusiaan Amerika.

Dikatakan bahwa temuan tersebut didapatkan empat tahun lalu, dan mirisnya jumlah itu kini kian bertambah.

Baca juga: 5 Dari 10 Bayi Gaza Wafat Setiap bulannya Akibat Krisis Alat Medis

Haaretz juga menambahkan, rusaknya sistem pengairan Gaza  air telah menyebabkan berkembangnya kuman dan virus seperti rotavirus, kolera, dan salmonella.

Situasi diperburuk dengan serangan Israel yang terus menerus dan mengilangkan jutaan nyawa.

Kemelut Air di Jalur Gaza

 Krisis Air Gaza

Di tengah perlawanannya menghadapi kesewenang-wenangan Israel, penduduk Gaza juga dipaksa berperang dengan berbagai krisis yang menderanya, salah satunya krisis air.

Dengan curah hujan yang rendah, sebagian besar penduduk Gaza mengandalkan air tanah untuk keperluan sehari-hari. Padahal, PBB menyatakan bahwa 97% air tanah Gaza telah terkontaminasi limbah berbahaya.

Sekolah di Gaza rata-rata hanya memiliki satu toilet untuk 75 murid, dan satu wastafel. Sebagian besar air yang digunakan tidak disaring terlebih dahulu atau mengambil dari waduk. Akibatnya, anak di sekolah-sekolah ini beresiko terkena penyakit pencernaan.

Krisis Air Gaza

Untuk mendapatan air bersih, penduduk Gaza harus membelinya dari depot atau pusat pengolahan secara filterisasi proses melalui laboratorium. Sayangnya tak semua mampu membelinya, mengingat dari 2 juta jiwa penduduk Gaza 1,5 juta masih berada dibawah garis kemiskinan. (history/abadi)

Sumber: Middle East Monitor