Gempa, Longsor, dan Banjir Melanda Bumi Pertiwi pada Saat yang Sama

Gempa, Longsor, dan Banjir Melanda Bumi Pertiwi pada Saat yang Sama

Keterangan Foto: Kondisi Kampung Tanjung Harapan Jorong Koto Sawah Terendam banjir (Foto: harianhaluan.com)

 

Jawa Timur–Duka menyelimuti bumi pertiwi, tiga bencana sekaligus terjadi di hari yang sama, Kamis 11 Oktober 2018. Diawali dengan gempa tektonik di Situbondo, Jawa Timur pada Kamis (11/10) pukul 01.44.57 WIB, yang  menewaskan 4 orang dan melukai belasan lainnya. Ratusan rumah juga rusak akibat gempa berkekuatan 7,4 SR yang terasa di daerah sekitar Jawa Timur bahkan sampai ke Bali itu.

rumah amblas
Salah satu rumah hancur akibat gempa di Situbondo, Jawa Timur, pada Kamis (11/10) (Foto: akcdn.detik.net.id)

Selang enam belas jam kemudian, longsor terjadi di Kota Sibolga, Sumatera Utara.Sebuah fondasi bangunan longsor karena hujan yang tak henti mengguyur kota Sibolga sejak Kamis (11/10) siang. Akibatnya, seorang ibu bernama Ika Marbun (31) dan dua anaknya, Yuni Tobing (4) dan Wahid Tobing (1,5) menjadi korban.Saiful Lubis (11) siswa kelas IV MIN Ketapang, yang masih berkerabat dengan Ika juga meninggal dunia dalam kejadian tersebut.

Kamis sore hujan dan angin kencang cukup deras, sementara korban baru saja pulang berjualan bakso bakar dari pelabuhan lama Anggar Sibolga. Naas,tiba-tiba tembok fondasi bangunan yang berada di atas rumah kontrakannya runtuh dan menimpa keempat korban.

Longsor
Longsor di Sibolga, Sumatera Utara pada Kamis (11/10) sore (Foto: @sutopo_PN

Masih dari Pulau Sumatera, di waktu yang sama banjir juga menggenangi belasan Kecamatan di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatra Barat.

Belasan Kecamatan tersebut adalah Wonisari Kinali, Simpang Tiga, Jambak Luhak Nan Duo, Kapa, Sasak, Batang Saman Kecamatan Pasaman, Gunung Tuleh, Sungai Aur, Koto Sawah Ujung Gading, Ranah Batahan, Air Bangis, dan Parit.

Meski tak ada korban jiwa, namun kerugian moril dan materil masih menyelimuti warga yang menjadi korban. Tak sedikit warga yang harus diungsikan karena rumah mereka yang berbahaya untuk ditinggali.

banjir Bandang
Banjir di Batang Saman, Nagari Aia Gadang, Kecamatan Pasaman, Pasaman Barat. (Foto: minangkabaunews.com)

“Puluhan warga terjebak di atas jembatan Batang Saman. Sekitar 30 orang warga berhasil dievakuasi. Namun ada puluhan warga yang tidak bersedia dievakuasi padahal sangat berbahaya jika air semakin tinggi,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasaman Barat Tri Wahluyo seperti dikutip dari Antara.

Hingga Jumat (12/10) pagi, proses evakuasi masih berlanjut dan sejumlah daerah masih tergenang.

Ibu pertiwi sedang berduka. Belum habis kesedihan mendera nurasi akibat gempa Lombok dan Palu, bencana lain malah terus terjadi. Indonesia sedang diuji, begitu juga dengan umat muslimnya yang sedang dicoba dengan ujian ukhuwah.

Mari sama-sama mendoakan, menguatkan, meringankan beban saudara-saudara kita yang tengah tertimpa bencana. Rekening donasi:
Bank Syariah Mandiri (451) 711.7976.337
a.n. Amal Bakti Dunia Islam

(history/abadi)

Sumber: Antara, CNN News

5 dari 10 Bayi Gaza Wafat Setiap Bulannya Akibat Krisis Alat Medis

5 dari 10 Bayi Gaza Wafat Setiap Bulannya Akibat Krisis Alat Medis

Palestina–Kemalangan seolah tak henti mendera anak-anak Gaza, Palestina. Ketua bidang perawatan bayi di Al-Shifa Medical Complex, Dr. Nashir Bulbul mengungkapkan 5 dari 10 bayi yang lahir, wafat setiap bulanya akibat minimnya obat-obatan yang tersedia.

Blokade Israel telah cukup ampuh mengakibatkan krisis berkepanjangan, salah satunya krisis obat-obatan dan alat  medis.

(Foto: wattan.tv)

Dalam Palinfo Bulbul mengatakan, bagian perawatan bayi di semua rumah sakit Gaza mengalami krisis luar biasa, termasuk krisis obat-obatan. Akibatnya,  penanganan medis bagi  bayi-bayi yang lahir prematur juga menjadi  sulit.

Baca Juga : Kisah Gempa Palu: Surantina Menggendong Anaknya Berlari Ke Bukit dalam Kondisi Hamil Besar

Selain itu, terbatasnya tenaga medis di Gaza juga menjadi salah satu hal yang tak bisa disepelekan.  Setidaknya, setiap bagian memerlukan enam dokter dan dua puluh perawat.

Bulbul juga menambahkan, alat bantu pernapasan darurat untuk bayi sangat terbatas. Padahal, itu merupakan kebutuhan yang sangat krusial, terutama  bagi bayi  yang mengalami masalah di paru-paru dan kekurangan oksigen. Sejumlah dokter pun akhirnya terpaksa menggunakan bantuan pernapasan manual, yang tak jarang malah lebih membahayakan.

Ketersediaan inkubator sebagai pemberi keamanan bagi tubuh bayi yang masih rentan juga hanya tersedia 20-25 saja. Sangat tidak seimbang dengan jumlah pasien yang memerlukan perawatan. Ia mengisyaratkan, ruang perawatan bayi sangat penuh, tak bisa lagi menampung pasien yang terus berdatangan. (history/abadi)

Sumber: Palinfo

Kisah Gempa Palu: Surantina Mengendong Anaknya Berlari Ke Bukit Dalam Kondisi Hamil Besar

Kisah Gempa Palu: Surantina Mengendong Anaknya Berlari Ke Bukit Dalam Kondisi Hamil Besar

Keterangan Foto: Surantina (kaos putih) tengah mengunjungi reruntuhan rumahnya di Kampung Bamba Kadongo,  Kelurahan Panau, Kecamatan Taweli, Kota Palu (01/09)

Palu–Surantina (kaos putih) tengah mengunjungi reruntuhan rumahnya di Kampung Bamba Kadongo,  Kelurahan Panau, Kecamatan Taweli, Kota Palu (01/09)

Kesedihan jelas tampak pada wajah Surantina (38), ketika ia mengunjungi reruntuhan rumahnya di Kampung Bamba Kadongo,  Kelurahan Panau, Kecamatan Taweli, pasca gempa melanda kota Palu (28/09). Rumah dengan suasana hangat, tempatnya bercengkrama dengan keluarga kini hanya tinggal puing-puing bangunan yang rata dengan tanah.

Dalam perbincangan, Surantina yang sedang hamil besar pun menceritakan kisahnya, ketika terjadi gempa bumi. Ia tengah di rumah bersama anaknya yang masih berumur sepuluh bulan, Jestin Rafasya. Mendadak, bumi berguncang hebat, dinding rumahnya terbelah.

“Saya refleks langsung lari ke luar rumah sambil gendong Jestin di bahu. Saya tak peduli lagi hamil. Yang saya pikirkan bagaimana saya dan anak saya selamat” jelas Surantina.

Sedangkan suaminya, Jefrie (29) berusaha menyelamatkan ibu dan saudara-saudaranya yang masih di dalam rumah. Alhamdulillah semua anggota keluarga mereka selamat.

Tak Ada Susu, Anak Surantina Minum Air Gula

 Surantina mengatakan, sejak gempa bermagnitudo 7,4 skala richter mengguncang kotanya, ia kesulitan untuk memperoleh makanan.

‘’Saya makan pisang, kentang, kacang-kacangan buat bertahan hidup sama keluarga. Anak saya kasih air gula,” ujarnya sambil meneteskan air mata.

“Kami minum dari air sungai. Kami masak. Airnya kami endapkan” tambahnya.

Prediksi Dokter Tentang Kehamilannya

Pada usia kandungannya yang menginjak delapan bulan, Surantina semakin bingung dengan bagaimana proses kelahirannya kelak. Pasalnya, saat terakhir diperiksa September lalu, dokter menyatakan janin dalam kandungannya berada dalam posisi melintang.

‘’Harus cesar kata dokter. Uang dari mana? Sekarang aja Cuma punya uang Rp 200 ribu. Tak bisa dipakai. Tak ada warung yang buka untuk sekedar beli susu untuk anak saya,’’keluhnya. (history/abadi)

Sumber olahan: Harapan Amal Mulia

Sutopo Purwo Nugroho: Jangan Lupakan Lombok,  Uluran Tanganmu Masih Sangat Dibutuhkan

Sutopo Purwo Nugroho: Jangan Lupakan Lombok,  Uluran Tanganmu Masih Sangat Dibutuhkan

Keterangan Foto: Korban gempa Lombok di salah satu kamp pengungsian (Foto: Antara)

Lombok–Sementara tanggap bencana gencar dilakukan di Sulawesi Tengah, pemulihan dampak gempa Lombok juga tak hentinya digalakkan. Ribuan korban gempa Lombok dan Sumbawa hingga saat ini masih memerlukan banyak bantuan. Diperparah resiko lain yang timbul akibat tinggal di pengungsian yang jauh dari kata layak.

Juru Bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengimbau kepada semua pihak untuk tidak sepenuhnya meninggalkan Lombok dan Sumbawa yang masih dalam keadaan memprihatinkan.

‘’Walaupun bencana sedang terjadi di Sulteng, jangan lupa, ribuan korban gempa Lombok dan  Sumbawa juga masih memerlukan bantuan kita,’’ kata Juru Bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Senin, 1 Oktober 2018.

Dua Bulan Pasca Gempa

Sutopo Purwo Nugroho
Sutopo Purwo Nugroho, Juru Bicara BNPB (Foto: VOA)

Hampir dua bulan pasca gempa, BNPB masih saja menambah daftar panjang korban yang berjatuhan. Sampai 1 Oktober 2018 korban meninggal mencapai 564 orang. Sedangkan jumlah korban luka-luka 1.584 orang.

Lombok masih berduka, trauma dan tangis masih terdengar di mana-mana. Ribuan rumah hancur dan memaksa warga  tinggal beratapkan tenda, yang tak cukup melindungi dari terikknya siang atau menusukknya suhu malam.

Hari-hari para pengungsi dipenuhi dengan berbagai keterbatasan. Makanan datang tak menentu, tergantung pasokan yang masih tersedia di dapur umum.

Masyarakat Lombok belum mampu melepas uluran tanganmu. Bantuan kemanusiaan menjadi satu-satunya tempat bergantung menyambung kehidupan. Tak ada pekerjaan, atau pun penghasilan.

Aksi Nyata untuk Lombok 

water filter abadi
ABADI menyalurkan bantuan water filter di pondok pesantren Al Fatih desa Gondang, Kec. Gangga, Lombok Utara(23/09)

Berbagai aksi nyata juga dilakukan ABADI untuk tetap membersamai Lombok. Program-program pemulihan dan pembangunan yang telah dirancang, dikerjakan dengan maksimal. Salah satunya yaitu pembangunan masjid sementara, penyaluran water filter di Lombok Utara, juga posko gempa yang tak henti menyediakan keperluan pengungsi.

Masjid darurat
Masjid darurat Abadi untuk korban gempa Lombok

Tak pernah ada kata terlambat untuk bersatu membangun Lombok. Kontribusi sekecil apapun akan sangat berarti bagi mereka.(history/abadi)

Salurkan donasi terbaikmu melalui:

Bank Syariah Mandiri

711.7976.337 a.n. Amal Bakti Dunia Islam

Nara Hubung: 087 8455 6406

Sumber: Suarantb, Law Justice

Palu Dalam Keadaan Genting! Tak ada Makanan dan Obat-obatan

Palu Dalam Keadaan Genting! Tak ada Makanan dan Obat-obatan

Palu–Ribuan korban gempa dan tsunami Palu yang mengungsi di halaman Polda Sulawesi Tengah masih terus bertahan di lokasi meski kebutuhan logistik terus menipis. Situs berita Antara juga melaporkan berita duka tentang adanya lima warga yang meninggal di pengungsian akibat lukanya yang terlampau parah.

Palu Bagai Kota Mati

Keadaan pengungsian semakin mencekam kala malam mulai datang. Sampai Ahad (30/9), listrik kota Palu belum juga menyala. Hanya ada cahaya lampu dari beberapa kendaraan yang menyorot ke arah reruntuhan bangunan.

Palu

Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika, Ferdinandus Setu mengatakan Kota Palu menjadi ‘kota mati’ pascagempa dan tsunami menerjang.

“Listrik mati, lebih dari 500 Base Transceiver Station (BTS) tidak berfungsi, toko-toko otomatis tutup, SPBU tidak berfungsi. Kota Palu seperti kota mati,” kata Ferdinandus menceritakan kesaksiannya seperti dikutip dalam Metrotv News.com.

Kebutuhan Mendesak Pengungsi

Gempa dan tsunami palu
Korban Gempa Donggala dan Tsunami Palu. (AFP PHOTO)

 Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan dengan banyaknya pengungsi kebutuhan bahan makanan dan obat-obatan begitu mendesak.

“Air bersih, bahan makanan, alat penerangan, genset, kantong mayat, kain kafan, makanan bayi dan anak, serta kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya ini menjadi kebutuhan yang mendesak,” ujarnya pada Minggu (30/9).

Diperkuat dengan pernyataan Koordinator posko Polda, Ahmar FN dalam CNN yang menyatakan bahwa hingga saat ini suplai makanan ke pengungsi masih sangat kurang. Sebagian besar pengungsi berasal dari Talise, kampung nelayan, Kelurahan Tondo.

Logistik Lumpuh, Penjarahan Terpaksa Dilakukan Warga

gempa dan tsunami palu
Warga menjarah baan bakar minyak di SPBU Jalan Imam Bonjo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9)

Beberapa warga korban gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah, menjarah mini market yang ada di sekitar kota. Penjarahan ditengarai terjadi karena belum meratanya pasokan bantuan kebutuhan pokok ke para pengungsi bencana gempa dan tsunami Palu yang terjadi pada Jumat lalu.

Setidaknya ada empat sampai lima market di kota Palu yang jadi target penjarahan warga. “Ambil makanan, makanan bayi-bayi,” tutu salah seorang penduduk yang turut mengambil barang, Sabtu, 28 September 2018 dalam Nasional Kompas.

Selain menjarah kebutuhan pokok, masyarakat juga menjarah beberapa SPBU di Palu. Warga menjarah SPBU untuk mendapatkan bahan bakar yang akan digunakan untuk kendaraan.

Sementara itu, angka korban meninggal akibat gempa dan tsunami kian tinggi. Sampai Ahad (30/9) siang, BNPB telah melansir jumlah korban meninggal dunia yang mencapai 832 jiwa.

Sampai saat ini, kebutuhan vital seperti makanan, minuman, dan obat-obatan masih sangat dibutuhkan para pengungsi di Sulawesi Tengah, khususnya di Palu.

Mari bantu ringankan beban saudara-saudara kita yang tengah tertimpa musibah gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah dengan doa dan donasi terbaik.

Rekening donasi:

Bank Syariah Mandiri
No. Rek (451) 711 7976 337
a/n Amal Bakti Dunia Islam

Untuk konfirmasi lebih lanjut, hubungi:
Call/SMS: 0878 6455 6406

Sumber Asli: Harapan Amal Mulia

ABADI Akan Bangun Masjid Permanen untuk Warga Lombok

ABADI Akan Bangun Masjid Permanen untuk Warga Lombok

Infoabadi.org, Lombok – ABADI atau yang juga yang disebut Amal Bakti Dunia Islam terus melakukan perbaikan untuk Lombok yang hancur paska diguncang gempa hebat hingga 7.0 SR beberapa bulan lau.

Direncanakan Relawan ABADI bersama lembaga mitranya akan melakukan peletakan batu pertama pembagunan masjid di Dusun Tempo Sodo, Desa Santong, Kec. Kayangan, Lombok Utara pada Jumat, 28 September 2018.

Sejak terjadinya gempa Relawan ABADI telah melakukan berbagai upaya untuk pemulihan warga yang menjadi korban gempa, termasuk salah satunya adalah membangun masjid darurat untuk warga Sholat Jumat.

Masjid Darurat
Anak-anak di pengungsian mengucapkan terimakasih atas masjid darurat yang tim ABADI dirikan

Berkat bantuan dari donatur yang masuk pada Abadi terealisasi 10 pengadaan masjid darurat, diantaranya:
– Dusun Lekok Timur, Desa Gondang Gangga Lombok Utara
– Dusun Betumping, Desa Sokong Lombok Utara
– Lingsar Lombok Barat
– Pancor Dao Lombok Tengah
– Dusun Tempo Sodo, Desa Santong Lombok Utara
– Desa Gelangsar, Kec. Gunung sari Lombok Barat

Diharapkan pembangunan masjid permanen ini berjalan lancar seperti program-progam pemulihan lainya yang sampai saat ini ABADI kerjakan. Setidaknya ada empat program pemulihan selain pembagunan masjid yang terus dikerjakan ABADI, antara lain: Pembuatan dapur umum, posko pengungsian, pembangunan MCK, dan pengadaan Water Filter.

“Kami akan terus melakukan recovery sampai Lombok benar-benar pulih seperti sedia kala. Masih perlu bersabar dan mengoptimalkan bantuan-bantuan dari para donatur.“ Ungkap Lauhul Hamdi selaku Direktur Amal Bakti Dunia Islam.

Rekening Donasi ABADI:
No. Rek Bank Syariah Mandiri (451) 711 7976 337
a/n Amal Bakti Dunia Islam

Konfirmasi lebih lanjut, hubungi:
Call/SMS: 0878 6455 6406

ABADI Bangun Hunian Sementara untuk Korban Gempa Lombok

ABADI Bangun Hunian Sementara untuk Korban Gempa Lombok

Infoabadi.org, Lombok – Gempa yang menelan nyawa hingga 515 orang, luka-luka 7.145 orang, 431.416 orang mengungsi, serta menghancurkan ribuan rumah, puluhan masjid dan madrasah. Salah satunya adalah rumah Sahlan. Bapak Sahlan seorang Guru SD di Kec. Pemenang, Kab. Lombok Utara, rumahnya hancur, tidak lagi dapat ditinggali bersama keluarganya sejak tragedi memilikan yang terjadi di Lombok beberapa pekan lalu.

Banyaknya rumah yang hancur akibat gempa yang terjadi, menggerakan ABADI atau Amal Bakti Dunia Islam untuk melakukan pembuatan Hunian Sementara (Huntara).

Material bangunan sudah disiapkan oleh relawan ABADI dan Karawang Berbagi di sebidang tanah yang nantinya akan dibangun Huntara pada Jumat, 28 September 2018. Material berupa batang-batang besi dan triplek.

Penyaluran Bantuan Hunian Sementara
Tim ABADI sedang menurunkan material-material yang nantinya akan digunakan untuk hunian sementara

Salah satu yang menjadi penerima manfaat dari donatur ABADI dalam program Hunian sementara ini adalah Pak Sahlan, seorang Guru Sekolah Dasar di Kec. Pemenang, Kab. Lombok Utara.

Sejak awal terjadinya Gempa di Lombok, ABADI bersama relawannya telah aktif melakukan penggalangan dan penyaluran bantuan. Antara lain kegiatan yang dilakukan ABADI adalah: Pembuatan dapur umum, posko pengungsian, pembangunan MCK, pembangunan masjid darurat, dan pengadaan Water Filter.

ABADI selama tiga bulan kedepan berencana untuk terus melakukan recoveri Lombok. Terutama di daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau bantuan.

“Kami akan terus melakukan recoveri sampai Lombok benar-benar pulih seperti sedia kala. Baik itu bantuan logistic, MCK, Pengadaan water filter, masjid darurat, hunian sementara.” Ungkap Lauhul Hamdi selaku Direktur Amal Bakti Dunia Islam.

“Dalam waktu dekat ini, ABADI juga akan membangun masjid permanen. Insya Allah peletakan batu pertama akan dilakukan Jumat (28/09/2018) mendatang.” Lanjut Hamdi.

Rekening Donasi Kemanusiaan Abadi:

No. Rek (451) 711 7976 337
a/n Amal Bakti Dunia Islam

Konfirmasi lebih lanjut, hubungi:
Call/SMS: 0878 6455 6406

Kekurangan Air Bersih, Abadi Salurkan Water Filter untuk Korban Gempa Lombok

Kekurangan Air Bersih, Abadi Salurkan Water Filter untuk Korban Gempa Lombok

Infoabadi.org, Lombok — Abadi atau Amal Bakti Dunia Islam kembali menyalurkan bantuan kepada korban gempa Lombok, tepatnya di Pondok Pesantren Al Fatih Desa Godang, Kec. Gangga Kab. Lombok utara, Minggu, 23 September 2018.

Bantuan dari Abadi kepada korban gempa Lombok berupa pengadaan alat penyaring air (Water Filter) untuk para santri di Pondok Pesantren Al Fatih dan juga masyarakat sekitar pondok pesantren.

Bantuan Water Filter ini merupakan hasil dari kebaikan para donatur Abadi , Muslim Mandiri, serta Karawang Berbagi, yang dikumpulkan, dan dibelikan alat berupa Water Filter. Kemudian Water Filter dipasang relawan Abadi dan relawan mitra lainnya.

Water Filter dipilih sebagai bentuk penyaluran karena, mengingat kondisi di lapangan, terutama di daerah Desa Godang, Kec. Gangga, yang saat ini sangat minim air bersih untuk pemenuhan kebutuhan minum, rumah tangga sehari-hari dan kebutuhan bersuci.

Sebelumnya Abadi juga telah membangun dapur umum, posko pengungsian, pembangunan MCK, pembangunan masjid darurat, pengadaan Water Filter, dan selanjutnya Abadi akan membuat hunian sementara untuk korban gempa Lombok.

Abadi (Amal Bakti Dunia Islam) selama tiga bulan kedepan berencana untuk terus melakukan pemulihan Lombok. Terutama di daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau bantuan.

“Kami akan terus melakukan recoveri sampai Lombok benar-benar pulih seperti sedia kala. Baik itu bantuan logistic, MCK, Pengadaan water filter, masjid darurat, hunian sementara.” Ungkap Lauhul Hamdi selaku Direktur Amal Bakti Dunia Islam.

“Dalam waktu dekat ini, Abadi juga akan membangun masjid permanen. Insya Allah peletakan batu pertama akan dilakukan Jumat (28/09/208) mendatang.” Lanjut Hamdi.

Rekening Donasi Kemanusiaan Abadi:

No. Rek (451) 711 7976 337
a/n Amal Bakti Dunia Islam

Konfirmasi lebih lanjut, hubungi:
Call/SMS: 0878 6455 6406

Masalah Baru Pengungsi Lombok: 117 Orang Terjangkit Malaria Termasuk Bayi dan Ibu Hamil

Masalah Baru Pengungsi Lombok: 117 Orang Terjangkit Malaria Termasuk Bayi dan Ibu Hamil

Lombok–Prajurit TNI bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Daerah Lombok Barat melaksanakan fogging di sekitar pengungsian warga di Desa Balai Luwu, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Lombok Barat. (Foto: Kabar Indo Timur)

Gempa yang menghujam Lombok beberapa waktu lalu, ternyata tak hanya mengakibatkan masyarakatnya kehilangan harta benda. Wabah penyakit malaria kini menjadi masalah baru yang menghantui para pengungsi terdampak gempa di Lombok.

Tercatat 117 pengungsi di Lombok Barat, termasuk di antaranya bayi dan ibu hamil dinyatakan terjangkit Malaria.

Wabah yang mulanya hanya ada di dua desa yaitu Desa Bukit Tinggi dan Desa Mekar Sari, kini menyebar hingga ke sepuluh desa. Seperti itulah penuturan dari Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat, Rahman Sahnan Putra.

Penularannya terbilang cepat, terlebih jika daya tahan tubuh lemah, maka penyakit tersebut mudah menjangkit pengungsi.

Prajurit TNI bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Daerah Lombok Barat melaksanakan fogging di sekitar pengungsian warga di Desa Balai Luwu, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Lombok Barat. (Foto: Kabar Indo Timur)

Malaria tentulah bukan wabah yang bisa disepelekan atau ditunda penanganannya. Penyakit yang menyebar melalui gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi parasit Plasmodium  ini, memang sering menjangkit sejumlah area dengan lingkungan yang tidak sehat.

Sejauh ini, kelambu, fogging, dan  cairan anti gigitan nyamuk menjadi solusi sementara untuk mencegah wabah penyakit semakin meluas.

Dilansir dari Tribun News, diperlukan sekitar 8-10 ribu kelambu untuk melindungi seluruh pengungsi di Lombok Barat dari gigitan nyamuk malaria. Sampai saat ini, hanya sekitar dua ribu kelambu yang mampu diberikan pemerintah daerah.

Pemerintah Daerah Lombok Barat tidak dapat memenuhi kebutuhan kelambu, diakrenakan hal tersebut  membutuhkan anggaran dan logistik dalam jumlah besar.

Di sisi lain, wabah malaria yang menyerang pengungsi sudah memasuki kategori darurat.

Tenda darurat di untuk pelayanan kesehatan di Lombok. (Sumber Foto: Tribun News)

Kemualiaan hati dari para donatur memang sangat dibutuhkkan masyarakat Lombok saat ini. Terlebih kita adalah saudara seiman, seibu pertiwi, yang tak mungkin tak terenyuh mendengar kabar kesulitan saudaranya.

Semoga Allah senantiasa memudahkan kita dalam setiap jalan amal menuju kemuliaan. (history/abadi)

Sumber: Harapan Amal Mulia

Resolusi Hijrah Tahun Baru Hijriah

Resolusi Hijrah Tahun Baru Hijriah

Abadi—Tahun demi tahun terus berganti, tak bisa kita hentikan barang hanya satu detik. Umur semakin bertambah, sejalan dengan berkurangnya jatah usia di dunia. Awal tahun menjadi momentum yang sangat tepat untuk mengingat kembali hal apa yang sudah kita lakukan untuk akhirat kita, dan apa saja hal penting yang belum bisa kita lakukan atau dapatkan di tahun-tahun sebelumnya. Atau kita terlalu sibuk mengejar dunia kita hingga lupa bahwa ada kehidupan yang lebih kekal di akhirat nanti?

Apakah kita harus begini-begini saja? Tentunya harus ada revolusi baru di tahun yang baru, karena seperti halnya Rasulullah yang berhijrah ke tempat yang lebih baik, kita juga perlu melakukan yang sama. Baik itu dari sesuatu yang buruk ke sesuatu yang baik, atau dari sesuatu yang baik ke yang lebih baik.

Solat Tepat Waktu

Solat menjadi suatu ibadah bagi kita mengingat solat adalah ibadah yang pertama kali akan dihisab di akhirat kelak. Orang-orang yang dengan sengaja menunda solatnya tanpa ada alasan syar’i, maka tergolong orang yang munafik seperti yang tertera dalam surat An-Nisa ayat 142.

Di era modern seperti sekarang, banyak aplikasi yang dapat menjadi penginangat tuannya untuk bersegera dalam melakukan solat.Hal tersebut dapat memudahkan untuk mewujudkan keinginan kuat kita untuk memperbaiki kualitas solat.

Mengapa tak boleh ditunda-tunda? Karena bisa jadi orang lain yang lebih dulu mensolatkan kita, padahal kita sendiri belum menunaikan solat.

Ibadah Sunah

Meskipun bukan amalan yang diwajibkan, tetapi keutamaan amalan sunah ini tak kalah dengan amalan wajib. Selain dijadikan wali Allah di muka bumi, amalan ini juga bisa melengkapi kekurangan pada amalan wajib.

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.”
(HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426)

Qiyamul lail, dhuha, rawatib, puasa hari senin dan kamis, merupakan salah satu dari banyaknya ladang pahala yang Allah sediakan untuk melengkapi amalan wajib.

Tilawah Rutin

Terhitungkah berapa banyak ayat Alquran yang kita baca tiap harinya? Selembar? Dua lembar? Atau bahkan tidak ada dan hanya seminggu sekali? Fenomena yang sangat sering terjadi di mana seseorang selalu meminta petunjuk, karunia, solusi atas masalah kehidupan namun ia tak pernah membaca Alquran, yang pada hakikatnya semua yang ia butuhkan ada di dalam Alquran.

“Sesungguhnya Al-Qur’an Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9).

Amal Jariyah

Umur di dunia boleh lah ada batasnya, namun pahala bisa jadi terus mengalir walau kita sudah tak lagi berada di dunia. Dalam hadis yang sudah sering kita dengar, bahwa jika seorang meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali ia meninggalkan sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, anak soleh yang mendoakannya.

Amalan-amalan tersebut merupakan investasi yang bisa menolong kita di akhirat kelak. Hanya Allah yang mengetahui umur manusia, tak ada yang bisa menjamin besok kita masih bernyawa atau tidak. Lantas sudah berapabbanyakkah amalan yang diinvestasikan untuk di akhirat kelak?

Silaturahmi

Silaturahmi merupakan salah satu rangkaian ibadah yang tidak bisa dilewatkan dari kehidupan manusia. Mengingat dengan silaturahmi, pintu ampunan Allah semakin terbuka karena dengannya kita dijari tentang menebar kasih sayang dan saling memaafkan.

”Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari no. 5991)

Mengejar Cita-cita

Baik itu profesi, pendidikan, atau niat mulia lain yang belum sempat terwujud di tahun lalu, maka raihlah ditahun yang baru. Bisa jadi cita-cita tersebut sempat tertunda pengupayaannya karena satu dan lain hal, namun gantungkanlah semua itu kepada Allah sebagai tempat bergantungnya segala sesuatu.

Momentum ini juga menjadi ajang kita untuk bermuhasabah tentang seberapa kuat usaha kita untuk meraih cita-cita tersebut, sudah luruskah niat kita, kesalahan-kesalahan apa saja yang sempat menggagalkan kita meraihnya. Namun yang jelas, libatkanlah Allah dalam segala hal, termasuk dalam bercita-cita. (infoabadi)

Sumber: Yayasan Harapan Amal Mulia